Prof. Puruhito: Integrasi Teknologi dan Tradisi Kunci Hadapi Era Global
Selasa,10 Maret 2026 - 16:53:41 WIBDibaca: 16 kali
Prof. Dr. med. Puruhito – Guru Besar Universitas Airlangga dalam Orasi Ilmiah pada Wisuda ke-132 Untag Surabaya (Foto: Humas Untag Surabaya)
SURABAYA – Guru Besar Emeritus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Prof. Dr. med. Puruhito, mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan pelestarian tradisi lokal. Pesan ini disampaikan dalam Orasi Ilmiah pada Wisuda ke-132 Untag Surabaya, Jumat (14/2/2026).
Di hadapan 1.470 wisudawan, Prof. Puruhito menyoroti tantangan era Society 5.0 yang ditandai pesatnya perkembangan teknologi, komunikasi, dan inovasi. Menurutnya, kemajuan tersebut harus disikapi dengan bijak agar tidak mengikis nilai-nilai budaya yang menjadi akar identitas bangsa.
"Masa depan yang harmonis terletak pada simbiosis teknologi dan tradisi. Kita boleh maju secara teknologi, tetapi tidak boleh meninggalkan tradisi yang menjadi akar lokal," tegas dokter spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular RSUD Dr. Soetomo ini.
Prof. Puruhito menjelaskan bahwa akar lokal mencakup pengetahuan, nilai, dan praktik yang diwariskan secara turun-temurun. Pengetahuan tradisional tersebut, lanjutnya, memiliki peran strategis dalam pembangunan berkelanjutan dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Ia mencontohkan sejumlah program berbasis kearifan lokal di Surabaya yang telah berdampak global, seperti Program Kampung Iklim, sistem pelayanan publik Surabaya Single Window (SSW), transportasi berkelanjutan, pengelolaan sampah berbasis bank sampah, serta pemberdayaan UMKM melalui program inovatif.
Dalam orasinya, Prof. Puruhito juga menekankan pentingnya integrasi nilai-nilai tradisi dalam kurikulum pendidikan. Menurutnya, pendidikan tidak hanya berfungsi mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga melestarikan nilai budaya sekaligus membentuk generasi yang peduli lingkungan.
"Kurikulum harus menggabungkan pengetahuan modern dengan nilai-nilai lokal agar mahasiswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki identitas budaya yang kuat," jelasnya.
Secara khusus, ia berpesan kepada para lulusan Untag Surabaya agar mampu menjadi generasi yang tidak melupakan tradisi, namun tetap berkontribusi di tingkat global melalui inovasi dan kolaborasi.
"Pendidikan berbasis akar lokal akan membantu mahasiswa memahami budaya, peduli lingkungan, dan memperkuat identitas mereka. Inilah bekal menghadapi masa depan," pungkas Prof. Puruhito. (noa)
Untag Surabaya || SIM Akademik Untag Surabaya || Elearning Untag Surabaya