Sadfishing, Antarkan Nurul sebagai Lulusan Terbaik Mikom
Jumat,31 Oktober 2025 - 11:04:14 WIBDibaca: 62 kali
Nurul Fitriani, S.I.Kom., M.I.Kom, lulusan terbaik Magister Ilmu Komunikasi semester genap tahun 2025. (Foto: Nurul Fitriani)
Berbagai fenomena sosial muncul seiring dengan berkembangnya teknologi komunikasi. Masyarakat kita seolah berlomba untuk menunjukkan eksistensinya melalui media sosial, mulai dari berbagi visual tentang aktivitas hingga kisah hidupnya. Namun, tidak sedikit dari mereka yang sengaja "menjual" kisah kesedihan atau masalah pribadinya untuk mendapatkan simpati dari orang lain.
Fenomena Sadfishing ini tampaknya menarik perhatian Nurul Fitriani dan menjadikannya sebagai topik utama dalam tesisnya yang berjudul Toxic Masculinity pada Fenomena Sadfishing dalam Tagar #LakiLakiTidakBercerita: Netnografi Kritis pada Konten Akun TikTok @bimblueess.
Nurul menuturkan bahwa fenomena sadfishing tersebut sangat dekat dengan kehidupan setiap orang dan jarang dibahas secara terbuka terutama pada lak-laki. "Banyak laki-laki yang sebenarnya pengin cerita atau nunjukin sisi emosionalnya, tapi sering ditahan karena takut dicap lemah," ujarnya.
Menurutnya, ada sebuah ruang yang menarik untuk dieksplorasi lebih dalam. "Aku lihat ada ruang yang sangat menarik dalam tagar #LakiLakiTidakBercerita di TikTok, tentang bagaimana laki-laki berusaha mengekspresikan diri di tengah standar maskulinitas yang kaku," tutur gadis kelahiran Sidoarjo ini.
Melalui penelitian yang mengantarkannya menjadi lulusan terbaik Magister Ilmu Komunikasi semester genap 2025 ini, Nurul menaruh sebuah harapan, yakni dapat membantu dalam memberikan sudut pandang terhadap masalah kesehatan mental khususnya dalam fenomena sadfishing.
"Dari penelitian ini, aku berharap semakin banyak orang sadar kalau laki-laki juga manusia yang punya emosi dan butuh ruang aman buat cerita. Aku juga ingin hasil penelitian ini bisa membantu merubah mindset kita tentang yang menyatakan bahwa laki-laki harus kuat terus, agar nantinya kita bisa lebih terbuka dan empatik dengan isu kesehatan mental dan tentunya tanpa terjebak dengan label toxic masculinity," ujar peraih IPK 3,96 ini. (riz)
Untag Surabaya || SIM Akademik Untag Surabaya || Elearning Untag Surabaya